Logo

Sebulan Cuaca Buruk, Ratusan Nelayan Dadap Juntinyuat Terpaksa Tak Melaut

Redaktur - mandaNews
Sebulan Cuaca Buruk, Ratusan Nelayan Dadap Juntinyuat Terpaksa Tak Melaut

Aktivitas nelayan di Pelabuhan Dadap terhenti setelah cuaca ekstrem memaksa mereka memilih bertahan di darat demi keselamatan. (foto/mandanews/riyan)

Indramayu, MandaNews - Pagi itu, Pelabuhan Dadap di Kecamatan Juntinyuat tampak lebih sunyi dari biasanya.

Tidak ada hiruk pikuk nelayan menurunkan hasil tangkapan, tak terdengar tawar-menawar di dermaga.

Ratusan kapal nelayan hanya terdiam, berjajar rapi bersandar, seolah menunggu waktu yang tepat untuk kembali mengarungi laut.

Sudah hampir satu bulan terakhir, cuaca buruk berupa angin kencang dan gelombang tinggi melanda perairan Laut Jawa.

Kondisi ini memaksa nelayan di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mengurungkan niat melaut. Laut yang biasanya menjadi sumber penghidupan kini berubah menjadi ancaman keselamatan.

Pantauan di Pelabuhan Dadap, Kamis (15/1/2026), ratusan kapal nelayan terlihat tidak beroperasi.

Para nelayan memilih bertahan di darat, menimbang risiko yang terlalu besar jika memaksakan diri melaut.

Gelombang tinggi dan angin kencang membuat hasil tangkapan tak sebanding dengan biaya solar dan perbekalan yang harus dikeluarkan.

Kodori, nelayan asal Desa Dadap, mengaku sudah sekitar satu bulan menghentikan aktivitas melaut. Ia menyebut gelombang tinggi menjadi momok yang membuat nelayan enggan mengambil risiko.

“Dengan cuaca seperti ini kami tidak bisa kerja, kurang lebih sudah sekitar satu bulan. Cuacanya buruk, ombaknya besar. Kalau di tengah laut, tinggi gelombang bisa mencapai 2,5 meter sampai 3 meter. Jadi terpaksa kami sementara tidak melaut dulu,” ujar Kodori.

Hari-hari Kodori dan nelayan lainnya kini diisi dengan penantian. Tanpa melaut, mereka praktis kehilangan sumber penghasilan. Aktivitas yang tersisa hanya memperbaiki perahu, membereskan jaring, dan berharap cuaca segera bersahabat.

“Kalau tidak melaut, aktivitas nelayan di sini mayoritas nganggur, tidak ada kerjaan. Paling yang kita lakukan hanya membereskan perahu, bagian-bagian yang rusak diberesin sambil menunggu cuaca membaik,” katanya.

Sebagian nelayan memang mencoba tetap turun ke laut, namun hanya berani beroperasi di sekitar bibir pantai. Hasilnya pun jauh dari harapan.

“Hasil tangkapan juga tidak seberapa, bisa dikatakan hampir tidak ada,” tambah Kodori.

Dampak cuaca ekstrem tak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga merembet ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dadap.

Aktivitas pelelangan tampak lengang. Minimnya kapal yang mendarat membuat pasokan ikan menurun drastis, transaksi pun nyaris tak terjadi seperti hari-hari normal.

Kini, para nelayan hanya bisa menggantungkan harapan pada perubahan cuaca. Mereka berharap angin mereda dan gelombang kembali bersahabat, agar layar-layar perahu bisa kembali terkembang dan roda ekonomi masyarakat pesisir Indramayu berputar seperti sediakala. (Win/Dwi/Yan)

Sebulan Cuaca Buruk, Ratusan Nelayan Dadap Juntinyuat Terpaksa Tak Melaut - Manda News - Manda News