Saat U-Turn Ditutup, Warga Desa Larangan Lohbener Gotong Royong Bangun Jalur Motor di Kolong Jembatan

Warga bergotong royong membuat jalur penyeberangan darurat di bawah kolong jembatan Pantura di Desa Larangan. (foto/mandanews/riyan)
Indramayu, MandaNews - Warga Desa Larangan, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, membuat jalur penyeberangan darurat untuk sepeda motor di bawah kolong jembatan Pantura guna menyiasati penutupan median jalan atau u-turn saat arus mudik Lebaran 2026.
Jalur alternatif tersebut dibangun secara swadaya oleh warga agar aktivitas masyarakat sekitar tetap berjalan lancar tanpa harus memutar jauh ketika akses putar balik di jalur utama Pantura ditutup oleh petugas selama masa rekayasa lalu lintas mudik.
Pantauan di lokasi, Sabtu (14/3/2026), puluhan warga terlihat bergotong royong menyiapkan jalur tersebut.
Mereka membendung sebagian aliran sungai menggunakan anyaman bambu, kemudian menyusun kayu sebagai alas perlintasan agar kendaraan roda dua dapat melintas dengan aman di bawah jembatan beton Pantura.
Panitia pelaksana pembangunan jalur darurat, Nono (60), mengatakan inisiatif tersebut muncul karena di kawasan itu tidak tersedia jalur penyeberangan maupun putar balik bagi warga saat median jalan ditutup selama arus mudik.
“Ini inisiatif warga untuk membantu memudahkan aktivitas masyarakat sekitar. Karena di sini nantinya tidak ada jalur lain untuk putar balik kendaraan,” kata Nono.
Ia menjelaskan jalur penyeberangan darurat tersebut rencananya akan mulai difungsikan ketika median jalan di jalur utama Pantura resmi ditutup pada masa arus mudik Lebaran.
“Kalau nanti median jalan sudah ditutup saat arus mudik, tempat ini bisa dimanfaatkan pengendara motor untuk berputar arah. Rencananya akan kami operasikan sampai arus balik selesai,” ujarnya.
Menurut Nono, pembangunan fasilitas sementara tersebut menelan biaya material lebih dari Rp20 juta yang berasal dari hasil patungan warga serta sumbangan masyarakat sekitar.
“Biaya materialnya sekitar Rp20 juta lebih. Semua dari swadaya warga dan sumbangan masyarakat,” ucapnya.
Meski demikian, panitia tidak menetapkan tarif khusus bagi pengendara yang melintas. Pengguna jalan hanya diminta memberikan uang secara sukarela.
“Tidak ada tarif, seikhlasnya saja. Ada yang kasih Rp1.000 atau Rp2.000, bahkan kalau tidak bayar juga tidak masalah,” pungkasnya. (Riyan/Win/Dwi)
Bagikan artikel ini: