Ratusan Patung Dimandikan, Vihara Dharma Rahayu Siap Sambut Tahun Baru Imlek

Umat Tionghoa membersihkan dan memandikan patung dewa-dewi di Vihara Dharma Rahayu An Tjeng Bio, Kabupaten Indramayu. (foto/mandanews/riyan)
Indramayu, MandaNews - Vihara Dharma Rahayu An Tjeng Bio, Kabupaten Indramayu, mulai menggelar rangkaian persiapan menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari 2026.
Salah satu agenda utama yang dilaksanakan pada Minggu (8/2/2026) adalah ritual bersih-bersih kelenteng, termasuk prosesi memandikan ratusan patung dewa-dewi sebagai sarana ibadah umat.
Kegiatan ini dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan umat Tionghoa bersama warga sekitar vihara.
Tradisi tahunan tersebut dimaknai sebagai simbol pembersihan lahir dan batin menjelang pergantian tahun dalam kalender Tionghoa, sekaligus mencerminkan nilai kebersamaan dan toleransi antarumat beragama yang telah lama terjalin di Indramayu.
Dalam prosesi ritual, ratusan patung dewa-dewi atau rupang dikeluarkan dari altar untuk dimandikan menggunakan air yang dicampur bunga mawar dan melati.
Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun di vihara yang berlokasi di Jalan Cimanuk, Kelurahan Lemahmekar, Kabupaten Indramayu, sebagai bagian penting dari persiapan menyambut Imlek.
Suasana khas perayaan Imlek semakin terasa dengan alunan lagu-lagu Mandarin yang mengiringi jalannya kegiatan.
Vihara Dharma Rahayu yang berdiri sejak tahun 1.848 ini dikenal sebagai salah satu kelenteng tertua di Indramayu dan sejak awal bersifat terbuka serta inklusif bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Ketua Yayasan Dharma Rahayu Indramayu, Kardjoh Dhamma Sukho, menyampaikan bahwa tahap awal persiapan Imlek difokuskan pada pembersihan sekitar 100 rupang yang berada di dalam maupun di sekitar kelenteng.
Pembersihan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari rupang utama hingga rupang pendukung, termasuk area penyimpanan, agar seluruh sarana ibadah siap digunakan saat perayaan berlangsung.
“Kegiatan bersih-bersih rupang ini menjadi tahapan awal dalam rangkaian perayaan Imlek. Sekitar 100 rupang kami bersihkan dari debu dan kotoran agar terlihat bersih, indah, dan nyaman dipandang saat umat maupun masyarakat umum datang ke kelenteng,” ujarnya.
Kardjoh menjelaskan, Hari Raya Imlek dimaknai sebagai hari musim semi yang dirayakan dengan penuh sukacita serta harapan baru.
Perayaan ini tidak hanya ditujukan bagi umat Tionghoa, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dekat tradisi dan budaya Tionghoa.
“Imlek kami rayakan sebagai hari penuh sukacita dan harapan baru. Sejak awal, yayasan menekankan bahwa perayaan ini bersifat inklusif dan terbuka untuk siapa saja,” jelasnya.
Setelah perayaan Imlek, rangkaian kegiatan akan berlanjut hingga puncak kemeriahan Cap Go Meh yang digelar 15 hari kemudian. Dalam perayaan tersebut, Kelenteng An Tjeng Bio akan menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya, seperti Barongsai dan Liong, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
“Cap Go Meh selalu kami isi dengan pertunjukan seni budaya, seperti Barongsai dan Liong. Ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati kebudayaan sekaligus mempererat kebersamaan,” katanya.
Namun demikian, Kardjoh mengungkapkan bahwa pelaksanaan puncak rangkaian perayaan tahun ini memiliki konteks khusus karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Oleh karena itu, pihak yayasan telah berkoordinasi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk memastikan seluruh kegiatan tetap berlangsung dengan menjunjung tinggi nilai toleransi dan keharmonisan.
“Karena bertepatan dengan Ramadan, kami sudah berkoordinasi dengan FKUB. Prinsip kami adalah saling menghormati dan menjaga kerukunan agar seluruh rangkaian acara dapat berlangsung kondusif,” tegasnya.
Kardjoh menambahkan, seluruh rangkaian perayaan Imlek hingga Cap Go Meh di Kelenteng An Tjeng Bio terbuka untuk umum, baik sebagai tontonan maupun sarana edukasi budaya.
Pihaknya berharap kegiatan ini dapat memperkuat nilai toleransi serta keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat Indramayu.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi ruang edukasi dan kebersamaan. Tujuan akhirnya adalah menciptakan suasana yang harmonis, saling menghargai, dan mempererat kerukunan antarumat beragama di Indramayu,” pungkasnya. (Win/Riyan/Dwi)
Bagikan artikel ini: