CV Archandra Karya Kerjakan Proyek Rp2,3 Miliar di SMA Negeri 1 Bongas Indramayu, Diduga Kuat Bermasalah

Indramayu, MandaNews - Angin dugaan korupsi kembali berembus kencang di Indramayu. Kali ini, sorotan publik tertuju pada proyek rehabilitasi Gedung SMA Negeri 1 Bongas, Kabupaten Indramayu, yang dikerjakan oleh CV. Archandra Karya melalui Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Proyek dengan nilai fantastis Rp2.332.460.700 itu diduga sarat penyimpangan.
“Ini bukan perkara kecil, anggaran lebih dari Rp2,3 miliar jelas harus diawasi ketat,” tegas salah seorang tokoh masyarakat anti korupsi Bongas, Sono.

Pantauan langsung awak media di lapangan, Rabu (17/09/2025), menunjukkan kejanggalan mencolok. Para pekerja proyek terlihat tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sebagaimana mestinya.
Kondisi itu bukan hanya melanggar aturan keselamatan kerja, tetapi juga membahayakan nyawa pekerja.

“Pekerja dibiarkan tanpa helm, tanpa sepatu safety. Kalau sampai ada kecelakaan, siapa yang bertanggung jawab?” sambungnya.
Tidak hanya itu, metode pengecoran bangunan juga menjadi sorotan tajam. Proses coran dilakukan secara manual dengan adukan menggunakan tenaga manusia, bukan dengan standar mesin pengaduk modern.
Bahkan, material campuran diduga kuat mengalami pengurangan spesifikasi.

“Kualitas coran terlihat lemah, adukannya pakai semen dan batu split yang diduga dikurangi dari spek. Ini jelas merugikan negara,” tambah aktivis LSM anti-korupsi Bongas.
Dugaan penyimpangan juga mengarah pada penggunaan besi. Besi yang dipasang untuk konstruksi dicurigai tidak sesuai dengan ukuran yang tercantum dalam spesifikasi teknis.

“Besi yang dipakai ukurannya lebih kecil dari standar. Kalau dibiarkan, bangunan bisa rawan ambruk dalam waktu singkat,” kata seorang praktisi teknik sipil ketika dimintai pendapatnya.
Ironisnya, di balik proyek bernilai miliaran rupiah ini, para pekerja hanya dibayar dengan upah murah.
Seorang buruh asal Garut yang ikut mengerjakan proyek mengaku menerima bayaran harian sebesar Rp120 ribu, dengan sistem kerja manual yang melelahkan.
“Kerja dibayar harian, sehari Rp120 ribu. Adukan cor pun kami lakukan pakai tenaga sendiri, tidak ada molen,” ungkap pekerja tersebut dengan wajah lelah.
Situasi ini pun menimbulkan tanda tanya besar di kalangan publik. Proyek bernilai miliaran, namun pekerja diperlakukan seperti buruh harian murah dan material diduga dikurangi.
“Kalau begini caranya, jelas ada aroma dugaan korupsi yang menyengat. Aparat penegak hukum harus turun tangan segera,” desak seorang aktivis anti korupsi Bongas.
Publik menunggu langkah tegas aparat agar kasus dugaan penyimpangan proyek pendidikan ini tidak menjadi skandal baru yang menodai dunia pendidikan di Indramayu.
“Anak-anak butuh gedung sekolah yang layak, bukan proyek abal-abal. Jangan biarkan korupsi merampas masa depan generasi muda,” pungkas tokoh masyarakat anti korupsi Bongas.
Hingga berita ini diturunkan, pihak CV. Archandra Karya maupun Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat belum memberikan klarifikasi resmi. (Tim Investigasi)
Bagikan artikel ini: