Warga Eretan Wetan Protes Lambannya Penanganan Banjir Rob, Demo Blokir Jalur Pantura

Warga Eretan Wetan memblokir Jalur Pantura Indramayu. (foto/mandanews/riyan)
Indramayu, MandaNews - Ribuan warga Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menggelar aksi unjuk rasa di Jalur Pantura Desa Eretan Wetan, Jumat (7/11/2025) sore.
Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan warga terhadap lambannya penanganan banjir rob yang terus merendam wilayah mereka selama bertahun-tahun.
Dalam aksi tersebut, massa sempat menutup sebagian jalur Pantura dari arah Jakarta menuju Cirebon.
Akibatnya, arus lalu lintas sempat tersendat dan menimbulkan kemacetan cukup panjang.
Namun situasi akhirnya dapat dikendalikan setelah aparat kepolisian menenangkan massa, sehingga jalur kembali bisa dilalui meskipun masih padat merayap.
Koordinator aksi, Supriyanto (40), menjelaskan bahwa unjuk rasa ini merupakan kelanjutan dari berbagai upaya yang telah dilakukan warga sebelumnya.
Mereka sudah berulang kali menyampaikan aspirasi, mulai dari permintaan audiensi hingga pengiriman surat resmi kepada pemerintah daerah, namun belum membuahkan hasil.
“Ini aksi lanjutan karena berbagai cara yang sudah kami tempuh belum mendapat hasil. Kami sudah sampaikan langsung ke pemerintah agar segera membangun tanggul untuk menahan rob yang hampir menenggelamkan seluruh wilayah Eretan Wetan,” ujar Supriyanto.
Menurut Supriyanto, warga sebelumnya telah beraudiensi dengan Bupati Indramayu, Lucky Hakim.
Dalam pertemuan itu, Bupati berjanji akan membangun tanggul sepanjang 1 kilometer secara manual menggunakan anggaran APBD, dari total kebutuhan sekitar 6,5 kilometer.
Sementara sisanya akan diupayakan melalui bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat.
“Yang satu kilometer itu memang sudah dibangun secara manual pakai alat berat dari APBD. Tapi sisanya, sekitar 5,5 kilometer lagi, belum ada tindak lanjut. Padahal Bupati dulu menyampaikan akan memperjuangkan sisanya ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat,” katanya.
Supriyanto menilai telah terjadi miskomunikasi antara Pemerintah Kabupaten Indramayu dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Hal itu mencuat setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan bahwa permintaan pembangunan tanggul isolasi untuk Desa Eretan Wetan belum pernah disampaikan secara lengkap oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu.
“Kemungkinan ada komunikasi yang terputus. Pak Gubernur bicara soal banjir, tapi ternyata permintaan pembuatan tanggul dari Pemkab tidak disampaikan ke provinsi,” ujar Supriyanto.
Ia mengungkapkan, kondisi di Desa Eretan Wetan kini sudah sangat memprihatinkan. Hampir seluruh rumah warga, sekolah, dan tempat ibadah terendam air rob setiap hari.
“Ada lebih dari 3.000 rumah dan sekitar 12.000 jiwa terdampak. Anak-anak kadang tidak bisa sekolah karena kelasnya tergenang. Mereka harus menunggu ruangannya kering dulu. Kami butuh kehadiran pemerintah untuk menyelamatkan desa kami,” ungkapnya.
Dalam aksi ini, warga menuntut Bupati Indramayu menepati janji pembangunan tanggul, sekaligus mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat turun tangan menyelesaikan sisa tanggul yang belum dibangun.
“Kami berharap aksi hari ini bisa didengar oleh pemerintah provinsi dan pusat. Kalau kabupaten hanya mampu satu kilometer, sisanya harus ada perhatian lebih. Kami hanya ingin desa kami tidak lagi tenggelam setiap hari,” tegas Supriyanto.
Supriyanto menambahkan, aksi kali ini diikuti sekitar 1.500 hingga 2.000 peserta, terdiri atas warga setempat serta mahasiswa asal Eretan Wetan yang pulang dari berbagai kota seperti Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. (win/riyan)
Bagikan artikel ini: