Ketika Desa Bergerak Melawan Kelaparan, Kisah Pos Pangan Malang Semirang Jatibarang

Kuwu Malang Semirang, Rusmono sedang merapikan stok di Pos Ketahanan Pangan. (foto/mandanews/red)
Indramayu, MandaNews - Pagi itu, suasana Desa Malang Semirang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, terasa berbeda.
Sejumlah warga datang silih berganti ke sebuah bangunan sederhana yang kini menjadi tumpuan harapan banyak orang, Pos Ketahanan Pangan desa.
Di tempat inilah, upaya mencegah kelaparan dan menjaga martabat warga mulai dijalankan secara nyata.
Program ketahanan pangan nasional yang ditekankan Presiden Prabowo Subianto tak lagi sekadar wacana.
Di Malang Semirang, gagasan besar itu diterjemahkan menjadi langkah konkret melalui pembangunan Pos Ketahanan Pangan yang dilengkapi lumbung pangan desa.
Lumbung ini disiapkan secara terencana, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga sebagai cadangan jangka panjang.
Tujuannya satu, memastikan tak satu pun warga desa kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar pangan.
Kuwu Desa Malang Semirang, Rusmono Syafi’i, menuturkan bahwa pendirian pos ketahanan pangan berangkat dari inspirasi pemikiran Gubernur Jawa Barat tentang pentingnya kemandirian desa dalam menjaga pangan warganya.
“Jadi yang pertama kita terinspirasi dari pemikiran Gubernur Jawa Barat bahwa setiap desa harus memiliki pos ketahanan pangan. Pos ketahanan pangan itu isinya adalah lumbung pangan, dengan peruntukan agar tidak ada satu pun warga desa yang sampai tidak bisa makan. Selain itu di sana ada pos pengaduan warga juga,” kata Rusmono, Kamis (15/1/2026).
Di dalam lumbung pangan tersebut tersimpan berbagai kebutuhan pokok.
Beras, sembako, obat-obatan, hingga makanan siap saji seperti sarden disiapkan dan dapat diakses warga secara gratis.
Pos ini juga berfungsi ganda sebagai pusat pengaduan, simbol kehadiran negara hingga ke tingkat paling bawah.
Tak hanya soal pangan, pemerintah desa juga memikirkan kondisi darurat.
Pos ketahanan pangan dilengkapi berbagai peralatan mitigasi bencana, termasuk alat fogging nyamuk untuk menjaga kesehatan lingkungan masyarakat.
“Selain sebagai lumbung pangan, pos ketahanan pangan juga dilengkapi dengan berbagai peralatan yang membantu upaya pencegahan bencana alam. Termasuk di antaranya alat fogging nyamuk yang disediakan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga kesehatan lingkungan masyarakat,” jelas Rusmono.
Sumber pengisian lumbung pangan berasal dari alokasi dana desa sebesar 30 persen pada tahun 2025 yang memang dikhususkan untuk program ketahanan pangan.
Dana tersebut tidak dibiarkan pasif, melainkan diputar melalui kegiatan produktif, dengan budidaya jamur sebagai motor utama.
“Isinya dari ketahanan pangan yang diambil dari dana desa sebesar 30 persen tahun 2025. Nah, Alhamdulillah di Malang Semirang, dana desa tersebut ketahanan pangannya kita gunakan di budidaya jamur. Keuntungannya itu masuk ke lumbung pangan dan pengembangan,” terangnya.
Namun ketahanan pangan desa tidak hanya bertumpu pada satu sektor.
Pemerintah desa juga mengembangkan sektor peternakan, pertanian, dan perikanan sebagai penopang utama agar ketersediaan pangan terus terjaga.
“Tapi tidak semua masuk ke budidaya jamur saja. Ada ketahanan pangan berbasis peternakan, pertanian, perikanan juga ada, semuanya ada. Nah, jadi kalau untuk masyarakat Malang Semirang, insya Allah, apa kebutuhan mereka untuk makan, kita siapkan,” tuturnya.
Program ini menyasar kelompok paling rentan, anak yatim, fakir miskin, lansia, jompo, dhuafa, hingga kebutuhan tempat ibadah. Semua bantuan diberikan tanpa pungutan apa pun.
“Semuanya gratis. Sasarannya adalah anak yatim, fakir miskin dan tempat ibadah. Otomatis fakir miskin itu adalah lansia, jompo, dan dhuafa,” ungkap Rusmono.
Di balik upaya besar ini, tantangan tetap ada. Target produksi jamur satu kuintal per hari belum tercapai, dengan produksi saat ini sekitar 40 kilogram per hari. Meski begitu, optimisme tetap terjaga.
“Selama ini kendala kita sedikit ya, ambisi kita memiliki target satu hari penghasilan dari jamur itu satu kuintal, kita baru 40 kilo. Jadi kalau itu sudah satu kuintal per harinya, insya Allah selain ketahanan pangan semakin kuat, pengrajin-pengrajin petasan insya Allah akan beralih usaha,” tuturnya.
Pemerintah desa juga membuka ruang kolaborasi dengan warga. Melalui skema kerja sama, desa menyediakan modal budidaya jamur, sementara warga mengembalikannya dalam bentuk hasil panen.
“Ini sudah banyak beralih, malahan kita sudah berkolaborasi dengan warga, MOU dengan warga. Barang siapa warga yang mau bekerja sama dengan kita, kita sediakan modalnya, nanti mereka bayar dengan jamur,” ujarnya.
Bagi Rusmono, Pos Ketahanan Pangan bukan sekadar bangunan atau program tahunan. Ia adalah fondasi masa depan desa tempat harapan disemai agar Malang Semirang tumbuh menjadi desa yang sejahtera, mandiri, dan bebas dari kelaparan serta stunting.
“Harapan ke depan, mudah-mudahan Malang Semirang menjadi desa yang masyarakatnya tidak ada lagi yang mengalami kekurangan, terbebas dari stunting, serta tidak mengalami kelaparan. Program ini dirancang bukan hanya untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga sebagai upaya jangka panjang ke depan,” pungkasnya. (Win/Dwi)
Bagikan artikel ini: