Inspiratif, Kuwu Sindang Sukses Kembangkan Ternak Ayam Petelur Hingga 2.000 Ekor

Peternak memberi pakan ayam petelur di kandang ternaknya di Desa Sindang, Indramayu. (foto/mandanews/riyan)
Indramayu, MandaNews - Usaha ternak ayam petelur menjadi peluang bisnis menjanjikan bagi masyarakat pedesaan.
Hal tersebut dibuktikan oleh Carnita, peternak ayam petelur asal Desa Sindang, Kabupaten Indramayu, yang berhasil meraup omzet jutaan rupiah per hari dari usaha ternak yang telah ia geluti selama lebih dari satu tahun terakhir.
Menariknya, di balik keberhasilannya mengembangkan usaha peternakan tersebut, Carnita juga mengemban amanah sebagai Kepala Desa Sindang.
Di tengah kesibukannya melayani masyarakat, ia tetap mampu mengelola usaha ternak ayam petelur tanpa mengganggu tugas utamanya.
Dalam menjalankan usaha tersebut, Carnita dibantu oleh sang istri, sehingga pengelolaan peternakan dapat berjalan secara optimal.
Usaha ternak ayam petelur ini pun menjadi sumber penghasilan tambahan yang cukup signifikan sekaligus inspirasi bagi warga desa.
Carnita menuturkan, usaha ternak ayam petelur tersebut dirintis dengan modal awal sekitar Rp120 juta yang berasal dari tabungan pribadinya.
Modal itu digunakan untuk pembangunan kandang, pembelian bibit ayam, serta pemenuhan kebutuhan pakan selama 40 hari pertama masa pemeliharaan.
Seiring berjalannya waktu, Carnita terus mengembangkan usahanya dengan menambah populasi ternak melalui pembelian bibit ayam petelur baru secara bertahap.
Hingga kini, jumlah ayam petelur di kandangnya hampir mencapai 2.000 ekor dan telah memasuki masa produksi optimal.
Bertambahnya jumlah ayam tersebut berdampak langsung pada peningkatan produksi telur.
Saat ini, hasil panen telur mencapai hampir satu kuintal per hari, dengan proses panen dilakukan satu kali setiap harinya.
“Produksi telur per hari sejak minggu kemarin sudah hampir satu kuintal, sekitar 100 kilogram. Untuk panen telur dilakukan satu kali dalam sehari,” ujar Carnita, saat ditemui di lokasi ternaknya, di kawasan Embung Jangkar, Desa Sindang, Rabu (21/1/2026).
Untuk pemasaran, Carnita mengaku masih memprioritaskan penjualan langsung kepada masyarakat sekitar desa.
Langkah ini dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan warga sekaligus menjaga kestabilan harga telur di tingkat lokal.
“Terkait penjualan, pemasarannya masih kami prioritaskan kepada warga sini. Kadang memang ada tengkulak, tapi tidak rutin. Kami lebih mengutamakan penjualan langsung ke konsumen,” jelas Carnita.
Sejalan dengan pola pemasaran tersebut, harga telur yang dijual juga disesuaikan dengan kondisi pasar.
Saat ini, telur ia pasarkan dengan harga berkisar antara Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram.
Meski harga di pasaran dapat mencapai Rp30.000 per kilogram, Carnita memilih menjual dengan harga yang lebih rendah agar tetap terjangkau oleh masyarakat.
“Alhamdulillah, kami berusaha menjual di bawah harga pasar agar tetap terjangkau oleh masyarakat,” ucapnya.
Dengan produksi hampir satu kuintal telur per hari dan harga jual sekitar Rp25.000 per kilogram, omzet yang dihasilkan Carnita dari usaha ternak ayam petelur mencapai sekitar Rp2,5 juta per hari.
Dari jumlah tersebut, keuntungan bersih yang diperoleh mencapai sekitar 40 persen setelah dikurangi biaya operasional, termasuk pakan dan perawatan ayam.
“Keuntungan bersihnya sekitar 40 persen atau kurang lebih Rp1 juta per hari. Untuk biaya produksi seperti pakan dan kebutuhan lain, alhamdulillah masih tertutupi dari hasil penjualan,” terangnya.
Dalam proses pemeliharaan, pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore hari. Waktu pemberian pakan disesuaikan dengan kondisi cuaca agar kesehatan ayam tetap terjaga.
“Pakan diberikan dua kali sehari, pagi dan sore. Kami sesuaikan dengan cuaca karena pakan sifatnya panas. Kalau masih terik, pakan tidak diberikan dulu sampai suhu menurun,” jelas Carnita.
Sementara untuk menjaga kesehatan ayam, vaksin diberikan saat usia ayam memasuki 16 hingga 17 minggu atau ketika mulai memasuki fase bertelur. Setelah itu, perawatan dilanjutkan dengan pemberian jamu alami.
“Vaksin diberikan usia 16 sampai 17 minggu sebagai penunjang produksi telur. Setelah itu kami lanjutkan dengan jamu alami seperti kunyit, temulawak, dan daun kelor,” ungkapnya.
Menurut Carnita, tingkat kematian ayam tergolong sangat rendah. Dari ratusan ayam yang dipelihara, hanya sebagian kecil yang mati, terutama pada fase awal pemeliharaan sebelum vaksin diberikan.
“Alhamdulillah tingkat kematian rendah. Dari 500 ekor ayam, hanya sekitar 5 ekor yang mati. Masa paling rawan itu usia 0 sampai 16 minggu sebelum divaksin,” ujarnya.
Ia menilai usaha ternak ayam petelur relatif sederhana dan tidak terlalu menyita waktu, sehingga cocok dijalankan oleh masyarakat yang memiliki pekerjaan utama lain.
“Alasan kami memilih ternak ayam petelur karena lebih simpel dan tidak terlalu menyita waktu. Pakan bisa disiasati pagi sebelum berangkat kerja dan sore setelah pulang,” katanya.
Melalui usaha tersebut, Carnita berharap peternakan ayam petelur dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi muda desa agar berani memulai usaha mandiri yang berkelanjutan.
“Usaha ini kami harapkan bisa menjadi motivasi bagi generasi muda yang masih bingung mencari peluang usaha. Peternakan ayam petelur sebenarnya cukup menjanjikan,” pungkasnya. (Riyan/Win/Dwi)
Bagikan artikel ini: