Halusinasi Atau Jembatan Keledai Swasembada Pangan

Oleh: Carkaya, S.Pi (Fungsionaris Partai Buruh)
Opini, MandaNews - Landasan Hukum, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan; Sebagai landasan utama Sistem Pangan Nasional.
Landasan Filosofis, Kedaulatan Pangan; Hak Negara untuk menentukan kebijakan pangannya secara Mandiri.
Kemandirian Pangan; Kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri yaitu Swasembada Pangan.
Ketahanan Pangan; Kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap Rumah Tangga.
Pangan, Segala sesuatu yang berasal dari Sumber Hayati (tanaman, hewan, ikan) dan Air; baik yang diolah maupun tidak, yang Dikonsumsi Manusia sebagai Makanan dan Minuman untuk Mempertahankan Hidup, Pertumbuhan serta melakukan aktivitas tubuh.
Swasembada Pangan, Kemampuan suatu Negara untuk memenuhi Kebutuhan Pangan Pokok bagi seluruh Rakyatnya dari hasil Produksi Dalam Negeri tanpa Bergantung pada Impor.
Prinsip, Ketersediaan Produksi Domestik; Mencukupi total kebutuhan Nasional.
Keterjangkauan Harga Pangan; Dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat.
Kemandirian; Tidak tergantung pada sumber luar untuk komoditas strategis (misalnya beras, jagung, kedelai).
Tujuan, Stabilitas Ekonomi, Ketahanan Nasional dan Kedaulatan Politik.
Kebijakan Impor, Rincian Komoditas dan Volume Impor 2025.
Kedelai; 2,05 juta ton (Bahan baku tahu/tempe, hampir 100% impor).
Bawang Putih; 587.277 ton.
Daging Sapi/Kerbau; 485.031 ton
Gula Konsumsi; 190.000 ton (Total kebutuhan nasional termasuk industri mencapai 6 juta ton/tahun) Jagung; 859.933 ton, Beras; 416.220 ton
Halusinasi Swasembada, Realitas Semu; Ilusi atau Khayalan yaitu Klaim "Swasembada" yang digembar-gemborkan hanya bersifat Semu, tidak riil, atau tidak menyentuh akar masalah kemiskinan petani.
Pemisahan dari Kepentingan Rakyat; Kemerdekaan harus Berwujud Nyata yaitu ketercukupan Sandang, Pangan dan Papan.
Swasembada dicapai melalui Impor; Yaitu Sistem yang menguntungkan Korporasi, sementara Petani kecil tetap Menderita atau Gagal Panen, maka itu bukanlah Swasembada Sejati melainkan Tipuan Indra.
Jembatan Keledai, Manusia tidak Berpikir seperti Keledai; Mengikuti jalan Melingkar terus-menerus tanpa kemajuan, Menyusuri "Jembatan keledai " Berpikir Instan atau Templat yang tidak menyelesaikan Akar Masalah, Logika Semu yang tampak Logis tetapi tidak Dialektis.
Jalan Pintas yang tidak, Membangun Kemandirian; Petani secara Riil hanya Memutar Ulang Pola yang Sama setiap tahunnya; Yaitu Target produksi tahunan, Impor saat gagal panen serta Bantuan Pupuk tanpa Perubahan Struktur Agraria maka bisa disebut "Jembatan Keledai Swasembada"
Pikirku Ku Harapan Swasembada tanpa Perbaikan Radikal dalam Kepemilikan Tanah dan Penguasaan Teknologi oleh Petani hanyalah Jembatan Keledai Birokrasi; Tampak Jalan, tetapi Berputar terus tanpa Sampai. Semua tak Nyata hanya Halusinasi.
Bagikan artikel ini: