Logo

Gerbang Desa Sukaurip, Ketika Cahaya Malam Menjaga Wajah Desa

Redaktur - mandaNews
Gerbang Desa Sukaurip, Ketika Cahaya Malam Menjaga Wajah Desa

Cahaya lampu menyorot gerbang Desa Sukaurip yang dihiasi ukiran bernuansa tradisional. Perpaduan cat merah, putih, dan aksen ornamen membuat pintu masuk desa tampak mencolok di tengah gelapnya malam. (foto/mandanews/winan)

Indramayu, MandaNews - Malam perlahan turun di Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu. Di antara jalan yang mulai lengang, sebuah gerbang berdiri dengan warna merah dan putih yang menyala di bawah cahaya lampu.

Gerbang itu bukan sekadar bangunan yang menandai batas sebuah wilayah. Ia berdiri di atas Jalan Raya Sukaurip-Sukareja, jalur yang menjadi bagian dari bufferzone Kilang Balongan. Di ruas jalan inilah kendaraan melintas, membawa orang-orang yang datang maupun meninggalkan Desa Sukaurip.

Gerbang tersebut dibangun melintang di atas jalan raya bufferzone, sehingga keberadaannya sekaligus menjadi penanda bagi siapa pun yang melintas di jalur tersebut. Pilar-pilarnya dihiasi ukiran dan ornamen, sementara lampu yang terpasang membuat wajah gerbang semakin jelas ketika malam datang.

Di bagian atasnya terpampang nama “SELAMAT JALAN DESA SUKAURIP.” Sebuah kalimat sederhana, tetapi terasa seperti salam yang dititipkan desa kepada mereka yang hendak melanjutkan perjalanan.

Di bawah cahaya, jalan menyimpan langkah. Di bawah ukiran, desa menyimpan wajah. Di antara merah dan putih, ada sebuah nama yang dijaga.

Gerbang itu dibangun oleh PT Pertamina Patra Niaga RU VI Balongan dan diselesaikan pada pertengahan 2026. Kehadirannya memberikan wajah baru pada jalur Sukaurip-Sukareja yang berada di kawasan bufferzone Kilang Balongan.

Sekretaris Kecamatan Balongan, Dasuki, mengatakan keberadaan gerbang tersebut menjadi bagian dari wajah Desa Sukaurip. Letaknya yang berada di jalur raya membuat bangunan itu mudah terlihat oleh masyarakat yang melintas.

“Gerbang ini menjadi bagian dari wajah Desa Sukaurip. Selain sebagai penanda wilayah, keberadaannya juga memberikan kesan tersendiri bagi masyarakat yang melintas,” ujar Dasuki, Rabu (16/09/2026).

Menurut dia, keberadaan gerbang di atas jalur bufferzone tersebut bukan hanya mempertegas identitas wilayah, tetapi juga memberikan penanda visual bagi masyarakat yang memasuki maupun meninggalkan kawasan Desa Sukaurip.

Terlebih ketika malam tiba, sorot lampu membuat ukiran dan warna pada gerbang semakin terlihat. Merah dan putih pada pilar seakan menjadi warna yang menyambut perjalanan, sementara nama Sukaurip menjadi pesan yang mudah dikenali.

“Kalau malam, lampunya membuat gerbang ini terlihat lebih hidup. Ukiran dan warna pada pilar juga semakin terlihat, sehingga memberikan karakter pada pintu masuk dan jalur desa,” katanya.

Bagi warga, gerbang itu perlahan menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari. Kendaraan yang melintas di Jalan Raya Sukaurip-Sukareja akan melewati bangunan tersebut, seolah memasuki sebuah halaman yang memiliki nama dan cerita.

Indrajaya, warga Sukaurip, mengatakan keberadaan gerbang membuat kawasan tersebut terlihat berbeda. Terlebih pada malam hari ketika lampu dinyalakan dan ornamen pada bangunan terlihat lebih jelas.

“Kalau malam lampunya menyala, gerbangnya kelihatan lebih bagus. Ukirannya juga terlihat jelas. Jadi seperti ada yang menyambut ketika masuk desa,” kata Indrajaya.

Menurut Indrajaya, posisi gerbang yang berada di atas jalan raya bufferzone membuatnya menjadi bangunan yang mudah dikenali oleh pengguna jalan. Mereka yang melintas dapat langsung mengetahui bahwa jalan tersebut berada di kawasan Desa Sukaurip.

“Sekarang kalau melihat gerbang itu, orang langsung tahu sudah masuk Sukaurip. Apalagi malam hari lampunya menyala, jadi lebih mudah dikenali,” tuturnya.

Baginya, gerbang bukan hanya soal bentuk bangunan. Ada identitas yang melekat di sana. Ada nama desa yang diperlihatkan kepada siapa saja yang datang, sekaligus salam bagi mereka yang hendak pergi. Sebab jalan selalu memiliki dua arah.

Ada mereka yang datang membawa urusan, membawa pekerjaan, membawa cerita. Ada pula mereka yang pergi membawa harapan, meninggalkan jejak roda di sepanjang Jalan Raya Sukaurip-Sukareja.

Dan di antara dua arah perjalanan itu, gerbang berdiri. Diam. Namun tidak pernah benar-benar tanpa cerita.

Pergilah jika jalan memanggil, carilah dunia sejauh langkahmu. Namun ketika rindu mengetuk pintu, selalu ada jalan untuk kembali.

Jalur bufferzone Kilang Balongan yang membentang di kawasan tersebut bukan hanya menjadi lintasan kendaraan. Bagi masyarakat sekitar, jalan juga menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Gerbang yang dibangun di atasnya kemudian hadir sebagai penanda visual yang memperkuat wajah Desa Sukaurip.

Ketika senja berganti malam, lampu-lampu gerbang mulai menyala. Ukiran yang semula samar perlahan menemukan bentuknya. Warna merah dan putih kembali terlihat, sementara tulisan “SELAMAT JALAN DESA SUKAURIP” menjadi pesan yang menemani perjalanan.

Ketika jalan mulai sunyi, gerbang itu tetap menyala. Ketika orang-orang datang, ia menyambut. Ketika mereka pergi, ia mengantar.

Dan ketika malam semakin dalam, gerbang itu tetap berdiri di atas Jalan Raya Sukaurip-Sukareja, jalur bufferzone Kilang Balongan menjaga sebuah nama, menjaga sebuah jalan, dan menjaga cerita tentang sebuah desa yang bernama Sukaurip.

Panjang Jalan Sukaurip-Sukareja buffer zone (zona penyangga) Kilang Balongan adalah 2,4 kilometer. (Winan)

Gerbang Desa Sukaurip, Ketika Cahaya Malam Menjaga Wajah Desa - Manda News - Manda News