Logo

FPP Indramayu Prihatin Rentetan Kasus di Pesantren, Minta Pengawasan dan Pendidikan Karakter Diperkuat

Editor: Tim Redaksi - mandaNews
FPP Indramayu Prihatin Rentetan Kasus di Pesantren, Minta Pengawasan dan Pendidikan Karakter Diperkuat

Ketua FPP Indramayu, H Azun Mauzun (kiri) bersama pengurus saat audiensi di DPRD Indramayu. (foto/mandanews/win)

Indramayu, MandaNews - Ketua Forum Pondok Pesantren (FPP) Kabupaten Indramayu, H Azun Mauzun, mengaku prihatin dengan rentetan kasus yang mencoreng dunia pendidikan berbasis keagamaan di sejumlah daerah di Indonesia.

Mulai dari dugaan pencabulan di lingkungan pesantren hingga aksi pembakaran pondok pesantren yang baru-baru ini terjadi di Mesuji, Lampung.

Menurut Azun, peristiwa-peristiwa tersebut menjadi tamparan keras sekaligus peringatan bagi seluruh pengelola pondok pesantren, termasuk di Kabupaten Indramayu, agar meningkatkan pengawasan, pembinaan, dan kualitas pendidikan karakter di lingkungan pesantren.

“Yang terbaru kita mendengar adanya pembakaran pondok pesantren di Mesuji Lampung. Sebelumnya ada kasus pencabulan di Pati, dan sebelumnya lagi di wilayah Pasundan. Ini tentu sangat memprihatinkan,” kata Azun kepada MandaNews, Senin (11/5/2026) malam.

Azun menilai, kasus yang melibatkan oknum di lingkungan pesantren dapat berdampak luas terhadap citra lembaga pendidikan Islam secara keseluruhan.

Padahal, kata dia, mayoritas pesantren selama ini berperan besar dalam membangun moral, akhlak, dan pendidikan keagamaan masyarakat.

“Karena satu oknum pesantren jadinya semua pesantren kena imbasnya. Kepercayaan masyarakat bisa menurun. Padahal tidak semua pesantren seperti itu,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut harus dijadikan pelajaran bersama bagi seluruh pengasuh dan pengelola pondok pesantren agar terus melakukan evaluasi internal, memperkuat pengawasan terhadap santri, serta membangun sistem pendidikan yang sehat dan aman bagi anak-anak.

Menurutnya, tantangan dunia pendidikan saat ini semakin kompleks. Tidak hanya pesantren, lembaga pendidikan formal pun disebut turut menghadapi persoalan serupa, terutama terkait kekerasan seksual terhadap anak dan peserta didik.

“Bukan hanya pondok pesantren, sekolah formal juga terdampak. Kasus pencabulan terhadap anak maupun siswa juga terjadi di berbagai tempat. Ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.

Azun menegaskan, pencegahan tidak bisa dibebankan hanya kepada satu lembaga pendidikan saja.

Dibutuhkan keterlibatan banyak pihak mulai dari keluarga, pemerintah, tokoh agama, tenaga pendidik hingga masyarakat untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi anak-anak.

Ia juga mendorong adanya langkah konkret berupa penguatan pendidikan moral, pembentukan sistem pengawasan yang lebih ketat, serta pembinaan rutin terhadap tenaga pengajar dan pengurus lembaga pendidikan.

“Harus ada langkah bersama untuk meminimalisasi kejadian-kejadian seperti ini agar tidak terjadi di Kabupaten Indramayu. Semua pihak harus bergerak bersama menjaga dunia pendidikan kita,” ucapnya.

Azun berharap pondok pesantren di Kabupaten Indramayu tetap menjadi tempat pendidikan yang mampu melahirkan generasi berakhlak, berilmu, dan menjadi teladan di tengah masyarakat. (Win/Dwi)

FPP Indramayu Prihatin Rentetan Kasus di Pesantren, Minta Pengawasan dan Pendidikan Karakter Diperkuat - Manda News - Manda News